MERAYAKAN SEPAKBOLA DENGAN KEMATIAN! #RIPHARINGGA

22:57

(source : @pssi__fai)
Hari ini langit Nusantara kembali meneteskan air mata.
Saat seorang anak yang lahir dan tumbuh dalam naungannya harus tewas ketika menyaksikan sepakbola.

Haringga Sirila, anak Jakarta pendukung Persija datang ke Bandung untuk menemani dan menyemangati tim kesayangannya ketika bersua dengan Persib yang katanya adalah rivalnya. Sayang ketika pertandingan telah usai dilakukan dan Persija dikalahkan, Haringga harus pulang untuk bertemu dan menghadap Tuhan. Tidak pulang ke Jakarta untuk kembali kepelukan hangat Ibu yang mungkin sudah menunggu senyum dan kepulangannya.

Seharian ini aku betul-betul dibuat kesal sekesal-kesalnya terhadap sepakbola. Olahraga yang selama ini pasti membuat aku berada di shaf paling depan ketika menyaksikan. Olahraga yang membuat diri ini rela berpergian jauh untuk mendukung tim kesayangan. Olahraga yang membuat diri ini mengidolakan sosok Cristiano Ronaldo, sampai dengan Boaz Salossa. Olahraga yang sebelumnya aku agungkan dapat menyatukan semua perpecahan.
  
Tapi hari ini, aku benar-benar kesal dan malu karena menyukai sepak bola.

Haringga Sirila menjadi korban kesekian dari amukan orang-orang yang mengatasnamakan suporter garis keras, orang-orang yang mengumandangkan klubnya sampai mati, orang-orang yang membunuh nurani hanya untuk eksistensi diri tanpa mementingkan apa itu HIDUP DAN MATI.

Haringga dianiaya oleh beberapa orang yang disaksikan oleh puluhan orang. Badannya penuh darah ketika dipukuli. Terkapar tak berdaya ketika dicemoohi sambil dipukuli seperti bukan manusia lagi. 

AH KEPARAT!

Aku mungkin tak mengenalnya, tapi aku tahu dia saudaraku sesama manusia dan juga satu bangsa yang katanya beradab dan juga merdeka. Pedih hati ini melihat video dimana orang-orang kesetanan ini membawa-bawa nama Tuhan sambil menyeret badan yang tak berdaya penuh darah. Hasil dari entah berapa puluh pukulan, dan berapa benda yang dibenturkan.

MALU SEKALI RASANYA MENYUKAI OLAHRAGA YANG MENGHILANGKAN NYAWA PENGGEMARNYA.


 (source : @pengamatsepakbola)

Celakanya ini bukan kali pertama, bukan juga kali kedua. Ini untuk kali yang kesekian kalinya anak bangsa harus dihilangkan nyawanya oleh orang-orang yang juga mengatasnamakan sepakbola ketika melakukan aksi kejinya. 

Bangsa kita ini memang bangsa yang pelupa. Masih basah air mata seorang Ibu yang kehilangan anaknya. Masih belum reda amarah Bapak yang kehilangan jagoannya. Lalu muncul kejadian-kejadian serupa.

Aksi damai dikumandangkan ketika baru kejadian, lalu kemudian dilupakan ketika pertandingan lainnya kembali dilakukan. Pelaku sudah ditahan, lalu muncul pelaku-pelaku baru yang masih kesetanan.

Harus sampai kapan olahraga ini harus menghilangkan lagi nyawa-nyawa penikmatnya. Nyawa dari anak-anak Indonesia yang ketika lahir diberikan nama dengan harap sebaik-baiknya, dengan mimpi setinggi-tingginya. Nyawa dari anak yang ketika dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Nyawa dari anak yang memegang penuh kebanggaan sebagai bagian dari tanah kalian, Indonesia.

Cukupkan sajalah Sepakbola di tanah air ini, jika memang nyawa sudah jadi tumbal bayaran yang harus selalu wajib disetorkan.
Cukupkan nyawa-nyawa yang diambil secara jahat oleh orang-orang yang mengaku paling cinta dengan Sepakbola.

Sudahlah, ini sudah terulang dan pasti akan terulang lagi.
Tentu saja,
KECUALI jika semua membangun hati nurani, menegakkan hukum dan sanksi, dan sadar bahwa bukan kita semua adalah manusia, satu saudara, satu bangsa bernama Indonesia.
Aku ulangi ini adalah KITA dengan AKU dan KAMU di dalamnya.

Tolong cukupkan, benar-benar cukupkanlah semua ini.
Biarkan olahraga ini menjadi olahraga yang memang dapat kita nikmati.
Biarkan olahraga ini membawa senyum anak-anak yang bermain di kursi stadion sambil menyuarakan dukungan penuh harapan.
Biarkan olahraga ini membawa harapan dari orang-orang yang merindukan banyak hal yang selalu didoakan.

Jangan sampai nyawa yang hilang ini kembali hanya dibalas dengan iba, dan diakhiri dengan lupa.
Jangan sampai tanah yang basah darah akibat dianiaya karena sepakbola kembali berulang entah kepada siapa.
Bisa saja aku, atau kamu yang mungkin sedang membaca.
Jika memang semua tak bisa berubah.
Maka biarkan aku berdoa kepada Tuhan, tolong hapuskan saja sepakbola dari Indonesia.
Karena gara-gara hal ini, nyawa di negaraku yang sudah murah menjadi semakin murah.


You Might Also Like

0 komentar