Kalah

11:11

Mari kembali bercerita.

Ah semoga ini bukan keluhan seperti cerita yang sudah-sudah.

Hari ini gue masih menghabiskan pagi di depan sebuah laptop untuk mempersiapkan diri menulis 3 artikel di kantor. Yoi, sudah sebulan lebih gue bekerja di salah satu media online di Jogja. Sebuah startup yang mengharuskan gue bangun pagi, dan pulang sore. Ah rutinitas yang merenggut kebebasan gue sebagai “manusia merdeka” karena harus berjuang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Ah menghabiskan hari demi hari hanya untuk menyambung hidup, jadi kayak lagu Fourtwnty – Zona Nyaman

Pagi ke pagi
ku terjebak di dalam ambisi
seperti orang - orang berdasi yang gila materi
rasa bosan membukakan jalan mencari peran
keluarlah dari zona nyaman

Menjalani rutinitas yang seperti ini membuat gue ga melupakan hal-hal lain yang selalu gue lakukan. Bla..bla..blaa (ini ceritanya nama-nama rutinitas gue, karena ga penting makanya gue tulis gitu), dan yang paling penting stalking mantan. Baik dari mantan gebetan (belum jadian), mantan pacar, sampai mantan calon gebetan.

Entahlah, setiap jatuh cinta gue pasti selalu di posisi orang yang kalah.

Susah untuk meninggalkan dan susah untuk melupakan.

Weits ini bukan berarti gue pengen balikan.

Sekali lagi, bukan berarti gue pengen balikan. (Ya kali boy, bukan gue sih, lebih tepatnya mereka yang ga bakal mau balikan HAHA!)

Ketika gue suka sama orang, gue seperti ngeletakkin beberapa persen diri gue ke orang itu. Ya sebutlah, ketika gue suka ke “orang” pastinya, ada sesuatu yang lebih dari sekedar perasaan yang gue sematkan disana.

Sesuatu yang gue sematkan. Mungkin ini lah yang membuat gue sangat susah, sangat-sangat susah untuk melupakan. Ditambah lagi dengan gue yang paling suka untuk bernostalgia dengan cerita yang lama. Kompilasi yang pas untuk membuat kisah cinta gue selalu di posisi yang menyebalkan dan terkadang cukup (ah mau bilang menyakitkan, sebenarnya ga menyakitkan juga).  Karena terkadang ketika putus atau ga jadi jadian, gue malah bersyukur. Bukan bersyukur karena gue ga dapet dia. Tapi bersyukur karena setidaknya, setelah ga sama gue, nih orang masih baik-baik aja.

Oke ini poin pentingnya. Ketika gue melepaskan, dilepaskan, meninggalkan, dan ditinggalkan oleh seorang yang pernah hinggap di hati gue. Gue selalu ingin memastikan bahwa doi masih baik-baik aja. Doi masih sebaik-baiknya manusia yang hidup dengan sebahagia-bahagianya.

Naif?.

Mungkin iya.

Okelah ketika putus, mungkin gue ngerasa sedih karena ada sesuatu yang hilang dari hati gue. Ga mungkin orang putus malah bahagia (kecuali emang jalanin kisah cintanya dengan landasan awal tidak saling cinta *pengen muntah boleh?).

Namun, ketika waktu terus berjalan perasaan egois sedih akan kehilangan pun perlahan hilang. Perasaan mencintai sebagai pasangan pun kandas. Ya semua berjalan kembali seperti biasa. Seperti orang berpisah, yang awalnya sedih, lalu menjadi terbiasa karena sudah menjalani hari-hari sendiri tanpa kata “bersama”.

Ketika perasaan sedih itu hilang. Ya buat gue emang cukup lama untuk menghilangkan sedih ini. Hidup sebagai penulis terkadang memang penuh perasaan melankolis, dan untuk itulah gue menulis. Karena katanya menulis adalah seni dari patah hati. (kok ini malah melenceng jauh dah)

Oke kita ulang. Ketika perasaan sedih itu hilang, ada beberapa hal yang ga hilang. Kenangan, dan sesuatu yang telah tersematkan. Kenang membuat nostalgia, dan sesuatu yang telah tersematkan itu membuat gue harus memastikan bahwa ini orang yang telah pergi hidup bahagia. Setidaknya jauh lebih bahagia ketika gue bersama dia.

Ah memang lelaki cupu.

Itulah sampai sekarang gue masih suka stalking seluruh (gile kesannya banyak amat) orang-orang yang pernah singgah di hidup lelaki melankolis yang katanya pengen jadi penulis ini.

Ah biarlah kalimat selanjutnya gue tulis bak penyair yang handal dalam menggetarkan.

Hai, si pemilik kenangan yang selalu ku banggakan dan ku mimimpikan.
Sekian lama kita berjalan tak bergandengan tangan.
Berpisah meneteskan air mata karena tak lagi saling membutuhkan.
Semoga kau selalu di selimuti kebahagiaan yang dulu selalu aku janjikan.
Semoga kau tak tahu apa yang ku lakukan.
Karena ini tak penting, dan tak ada maksudku untuk memaksa kita saling memutar arah berbalik badan untuk kembali bergandeng tangan.
Aku masih mencarimu dalam kesunyian.
Aku masih memperhatikanmu dalam kejauhan.
Karena pada dirimu ada yang kusematkan dan tak pernah bisa ku lepaskan.
Bukan perasaan hak atas kepemilikan.
Tapi sebuah harap akan kebahagiaan, tentang dirimu yang pernah jadi pujaan.
Tenanglah pemilik kata sayang yang pernah ku ucapkan.
Tak ada harap bagiku, selain kebahagiaan yang kau dapatkan.
Karena entah cerita luka apapun yang pernah kita dapatkan.
Kau tetaplah pemilik kenangan yang dulu pernah ku rasakan.
Biarlah aku jadi lelaki dari lukamu yang akan selalu mendoakan.
Tentang kebahagiaan yang tak bisa dari aku kau dapatkan.
Bahagialah kenangan.

Sudahlah itu yang kira-kira aku (eh gue) pengen sampein, tentang kisah cinta seorang pria yang selalu kalah dalam hal melupakan. Seorang pria pemilik luka dari cerita yang mungkin di dapatkan oleh para wanita (MUNTAH INI MUNTAH!). Sampai jumpa dan jangan mencintai kembali. Karena gue sudah mencintai sang pujaan hati yang entah wujudnya tak pernah muncul sampai hari ini. HUEK!.

You Might Also Like

0 komentar