PUNCAK TERDINGIN JAWA! GUNUNG LAWU!

00:36



 Jogjakarta 2014, gue gagal audisi Stand Up Comedy Kompas TV.
Hari itu gue pulang dari salah satu gedung Universitas Gadjah Mada, karena untuk sekian kalinya gue gagal disebuah audisi. Di sepanjang jalan menuju kos, gue lihat banyak orang make motor yang sedang gendong carrier. Kos gue sebenarnya berada di bawah Gunung Merapi, jadi nggak heran kalau setiap hari gue menemukan banyak pendaki yang bawa carrier untuk mendaki gunung. Tapi entah kenapa, hari itu carrier-carrier yang dibawa oleh para pendaki tadi seolah memanggil-manggil nama gue, mereka seolah ngomong “Bang Ojik, ayo kapan naik gunung lagi, ayo gendong aku ke puncak lagi bang, ayo...” Gue sebenarnya sudah satu kali naik gunung, mungkin hal itu juga yang membuat otak gue sangklak dan bisa berdelusi kalau para kaum carrier bisa ngomong kayak gitu.
 Sampai di kos, gue langsung mandi dan membersihkan diri. Seselesainya, gue langsung menuju ke kamar Fadlan, kamar yang biasanya digunakan sebagai basecamp nongkrong dan tempat buat bercanda. Waktu itu ternyata kamar Fadlan lebih ramai dari biasanya, ternyata semua teman gue lagi komplit dan kumpul disana. Mereka yang lagi nonton drama korea juga nggak lupa kasih semangat buat gue “Udah jik nggak apa-apa, nanti coba lagi,” Ya setidaknya ucapan yang bisa menenangkan hati gue lagi.
 Gue yang juga ikut nimbrung nonton, langsung ngomong “Eh plek, tadi gue di jalan liat orang bawa carrier, kayaknya asik nih naik gunung,” Omongan yang langsung dibales “Udahlah, paling wacana lagi.” Iya wacana, kita terlalu banyak wacana, dan nggak pernah bisa direalisasikan dengan benar. Selama ini gue dan teman-teman sudah punya banyak yang direncanakan, tapi nggak pernah bisa terealisasikan, pasti selalu ada alasan untuk membatalkan rencana-rencana itu. Dulu kita pernah berencana buat nikahin Pevita dan Raisa, tapi nggak jadi karena dukun kenalan gue mendadak wafat. Nggak heran juga kita menamakan genk kita ini sebagai “The Wacana”. Gue kemudian iseng lagi ngomong “Yaudah biar nggak wacana, kita lakuin kayak biasa aja besok berangkat” 
Iya ini adalah tradisi dari kita. Kalau pengen punya rencana itu harus diucapkan paling cepat H-2 sebelum keberangkatan. Tujuannya sih mulia, agar rencana itu nggak jadi wacana dan bisa jadi realita. Omongan yang kemudian ditanggapi serius dengan semua orang yang ada di ruangan itu “Yaudah besok berangkat, sekarang patungan kita sewa alat.”
 Sebelumnya karena nantinya mereka semua bukan figuran di cerita ini, gue bakal kenalin semua tokoh di dalam perjalanan ini. Kita waktu itu berlima, yang pertama adalah Fadlan, doi si tuan kamar yang punya kamar, asal Makasar dan suka JKT48, kedua Luthfi, letak geometris kamarnya berada disebelah kamar Fadlan, doi adalah satu-satunya yang bukan berasal dari jurusan Ilmu Komunikasi, doi anak Teknik Sipil dan temen yang setia satu kelas sama gue sewaktu SMA, yang ketiga adalah Ade anak Serang yang punya suara paling gede diantara kita-kita, yang keempat adalah Dede anak Balikpapan yang paling expert kalau masalah cinta.
 Jadilah kita berlima memutuskan untuk mendaki gunung di keesokan harinya. Karena deadline cuma satu hari, kita memutuskan untuk mendaki gunung Merapi yang berada lebih deket dibanding gunung yang lainnya. Sore itu akhirnya kita patungan menyewa peralatan baik carrier, tenda dan teman-temannya. Sebenarnya The Wacana punya anggota lain, yaitu Rama dan Kevin cuma karena sesuatu hal mereka nggak bisa ikut untuk naik gunung.
 Perkara baru muncul, karena kita semua bukan anak mapala (mahasiswa pecinta alam), kita nggak ada yang bisa pasang tenda. Dulu kita pernah nyoba memberanikan diri untuk mendaki gunung Merbabu, pada akhirnya ketika mau pasang tenda kita harus dibantu oleh para pendaki lain. Gue nggak mau hal goblok itu terulang lagi, karena selain malu-maluin gue nggak mau menyusahkan para pendaki lain yang jelas pasti juga lagi capek. Jadilah waktu itu gue ajak sesosok manusia bernama Herry, doi adalah anak Lombok yang fisiknya terkenal paling tangguh di jurusan Ilmu Komunikasi angkatan gue. Dan jadilah kita berenam yang naik gunung.
 Kenapa kita milih untuk naik gunung? Sebenarnya itu sederhana, selain karena dulu kita semua terdoktrin oleh film 5 cm, naik gunung adalah refreshing yang paling murah dan menyenangkan. Biasanya yang mahal itu cuma di peralatan, yang kalau kita punya teman itu bisa dipinjam secara gratis. Kalau nggak ada kita bisa sewa, dengan totalnnya semuanya dibawah seratus ribu. Selain kita bakal dapat cerita di setiap jalannya, dan foto dengan nama kekasih di kertas waktu di puncak, kita bakal dapat melihat pemandangan yang nggak semua orang bisa lihat. Dan ketika turun, kita bakal bisa dengan bangga memamerkan foto, yang nggak semua orang bisa miliki. Maka nya kita mahasiswa yang selalu susah di akhir bulan, lebih memilih mendaki gunung untuk refreshing, dibandingin berbaur dengan manusia-manusia di mall ataupun tempat lainnya yang jelas bakal lebih mahal.
 Ketika semua alat sudah di sewa, dan tim sudah terbentuk, malam harinya kita berenam mengadakan rapat kecil buat persiapan. Karena semepet dan senekat apapun “The Wacana” kita tetap harus melakukan persiapan. Kita yang kali ini masih menggunakan kamar Fadlan untuk tempat ngumpul, harus dapat kabar duka setelah gue melihat berita di TimeLine salah satu akun pendaki bahwa puncak Merapi lagi longsor dan nggak bisa untuk di daki. Kita bingung, karena sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk sewa alat, dan kita juga nggak mungkin memaksa untuk  mendaki gunung yang sedang longsor. Waktu itu solusi-solusi baru bermunculan. Ade ngasih solusi untuk pindah ke Gunung Merbabu, yang letaknya nggak jauh dari Merapi. Tapi usul itu langsung gue dan Luthfi tolak karena, kita sudah pernah mendaki Merbabu. Prinsip gue kalau naik gunung kalau sudah pernah didaki yaudah jangan didaki lagi, masih banyak gunung lain yang seharusnya bisa didaki. Sama kayak orang pacaran, kalau sudah putus yaudah nggak usah dicari lagi, masih banyak wanita-wania lain di luar sana, nggak usah mulai cerita baru dengan orang yang lama, karena akhirnya ya pasti sama *apalah ini.
 Khusyuk dengan persamaan naek gunung dan pacaran, tiba-tiba entah dapat wangsit dari mana Fadlan selaku tuan kamar langsung ngomong “Yaudah, kita ke Gunung Lawu, nggak usah bawa motor, motornya kita parkir di stasiun Tugu Jogja aja, nanti kita naik kereta ke Solo, dari sana kita nyari bis yang langsung mengarah ke Lawu.” Dengan alasan biar sekalian bisa merasakan jadi anak backpacker, akhirnya kita semua setuju. Luthfi yang lagi mengecek daftar kereta akhirnya ngomong “Yaudah sekarang kita tidur, besok kita berangkat dari sini jam 6, kereta kita berangkat jam 7.” Akhirnya setelah rapat itu kita semua istirahat.

Pagi harinya, dengan dandanan ala anak pendaki gunung kita semua naik motor menuju stasiun. Sialnya pagi itu masih hujan jadi kita harus neduh dulu di pinggir jalan. Karena waktu yang sudah kepepet, dengan hujan yang masih rintik-rintik, kita nekat buat meneruskan perjalanan. Sampai di stasiun, ternyata benar kita sudah ketinggalan kereta yang berangkat jam 7. Untungnya pihak stasiun bilang masih ada kereta yang berangkat jam 8, dan kita dengan kompak menyetujui untuk berangkat jam 8. Gue merasa bersyukur tinggal di Jogja, dengan keadaan semua murah, bahkan tiket kereta pagi hari ini kita dapatkan cuma dengan harga Rp.6.000,-.
 Nggak kerasa nunggu, akhirnya kereta yang kita tunggu siap. Dengan gaya anak backpacker, kita semua naik dengan semangat. Perjalanan dari Jogja ke Solo cuma butuh waktu 2 jam. Diawali dengan Fadlan yang memang pelor (nempel molor), kelima teman gue yang lain tidur di jalan. Gue sendiri milih buat mendengarkan lagu dan memperhatikan jalan, ya siapa tahu ban keretanya bocor (Rahasia Illahi nggak ada yang tahu).
 Beriringan dengan berakhirnya lagu Animals yang dinyanyiin oleh Maroon 5, kereta pun sampai di Stasiun Solo Balapan yang menandakan kita harus turun dan melanjutkan perjalanan. Untungnya lokasi stasiun dan terminal nggak terlalu jauh, jadi kita yang sudah bawa carrier masing-masing, milih untuk berjalan menuju terminal. Inilah asiknya kalau jalan nggak bawa kendaraan, di sini gue benar-benar merasa jadi anak Backpacker yang waktu jalan selalu jadi pusat perhatian. Akhirnya gue bisa merasakan apa yang dulu gue saksikan di tayangan televisi.
 Belum sampai di terminal, ternyata bis yang menuju ke Tawang Mangu (Lokasi awal pendakian) lewat melewati kami. Sontak kita semua teriak dan lari mengejar bis itu. Dengan bis kita bisa ke Tawang Mangu dengan waktu kurang lebih 2 jam. Kali ini para pelaku pelor nggak bisa melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Alunan lagu dangdut di dalam bis terlalu keras untuk membiarkan rasa kantuk datang hinggap di kepala. Dua jam perjalanan, dua lagu dangdut yang diputar, dan jadilah kita para hafidz dangdut.
 Setelah beberapa tanjakan, beberapa lampu merah, dan beberapa tikungan yang kita lewati. Akhirnya kita semua sampai di Tawang Mangu, yang ternyata bukan tempat pendakian awal dari Gunung Lawu. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi menggunakan mobil untuk menuju basecamp pertama dari trek pendakian. Parahnya adalah para pengemudi di sini bersifat terlalu maruk, mobil yang aturannya cuma boleh ditumpangi oleh 9 orang, kini di paksa untuk ditumpangi oleh 17 orang. Istilah tergencet, kejepit, dan nggak sengaja tergrepe nggak bisa kami hindari. Setelah setengah jam  kemudian akhirnya kita bisa selamat di basecamp.

  Di basecamp para pendaki lain sudah pada seliweran mondar mandir. Ada yang baru mau naik, ada juga yang sudah turun. Pagi itu, dengan cuaca yang dingin tiba-tiba seorang pendaki datang menghampiri kami “Mas, mau naik ya? Waah di atas badai mas, itu jalur ditutup.”
  DANG!
 Pengorbanan kegencet dan tergerepe seolah nggak terbayar karena jalur pendakian ditutup. Kita yang sudah putus asa akhirnya milih untuk sholat dulu, sekalian berdoa berharap jalur kembali dibuka. Dengan memberanikan diri, kita yang sudah selesai sholat akhirnya nanya ke penjaga di sana. Luthfi resmi diutus untuk bertanya. “Kalau mau ngedaki ya ngedaki aja, tapi kalau ada apa-apa mereka nggak tanggung jawab.” Luthfi coba meneruskan omongan penjaga. Karena nggak mau nggak dapat apa-apa, dan sudah terlanjur datang akhirnya kita kompak buat tetap mendaki dengan konsekuensi kalau mendadak badai kita semua turun.
 Dengan lafadz Bissmillah, langkahan kaki pertama kita langkahin. Gue yang membawa hape, sengaja memutar lagu-lagu dangdut untuk membunuh waktu dan mengusir capek. Di jalan gue banyak melihat sampah yang berserakan, ini yang gue nggak suka dari orang Indonesia, alam cuma dianggap “BISPAK”. Cuma bisa dipakai, kalau sudah dipakai yaudah nggak usah diurusin lagi. Make fasilitas Tuhan dengan gratis, tapi nggak mau ngurusin, kalau alamnya mendadak jelek gerutu ke pemerintah dan pihak pengelola. Kita The Wacana memang bukan sekumpulan Mahasiswa Pecinta Alam, yang setia menjaga dan melestarikan alam. Kita semua hanya penikmat alam yang tahu etika untuk menjaga nilai estetika yang ada. Sebenarnya menjaga itu nggak susah. Nggak perlu sok-sok memungut sampah, cukup nggak “nyampah” dan menjaga sampah nya sendiri saja itu sudah lebih dari cukup.
 Dengan hati yang gelisah kita semua tetap melanjutkan perjalanan. Indahnya naik gunung adalah, entah kenapa setiap pendaki yang ada di sana sudah dianggap seperti saudara, semua ego kasta nggak dipedulikan di sana, nggak ada perkara “Anak Siapa” dan “Saya ini siapa”, semua terasa sama di sana. Hamba Tuhan yang berjalan untuk menikmati ciptaannya. Hal itu juga terbukti dengan setiap bertemu dengan pendaki kata-kata seperti “Mari mas”, “Monggo mas” adalah kewajiban. Kata ramah dan sederhana yang sangat susah dicari di kota sana. Identitas Indonesia yang murah senyum benar-benar terasa disini, identitas sederhana yang sangat gue rindukan.
  Di sepanjang jalan kita juga melihat para pendaki yang turun, dan ketika ditanya “Diatas badai atau nggak?” mereka selalu jawab “Badai mas” bahkan ada yang menjawab dengan “Badai gede mas, sudah 3 hari di atas nggak lihat matahari.” Tapi dengan mental yang sudah dikuat-kuatin, dan emutan madu beserta coklat dimasing-masing mulut. Kita PD untuk tetap melanjutkan perjalanan.
 Ratusan, bahkan ribuan langkah telah kita langkahi, nggak kerasa Pos 1 dan Pos 2 kita lewati dengan teduh. Menuju pos 3 tiba-tiba cuaca yang teduh berubah jadi hujan. Kita yang nggak bawa jas hujan harus berteduh di pos 3 sembari menunggu hujan berhenti. Gunung memang dingin, tapi yang ini jauh lebih dingin. Nggak heran kalau Lawu disebut gunung terdingin di Jawa, Fadlan sudah mengalami gejala hipotermia alias kedinginan dan merasa sudah nggak kuat buat melanjutkan perjalanan. Sekali lagi masalah yang membuat kita pesimis untuk sampai di puncak. “Dingin banget, udah kita ngecamp disini saja, gue nggak kuat bawa carrier lagi.” Fadlan ngomong sambil memeluk badannya sendiri. Sebenarnya kita bukan nggak mau untuk ngecamp di sana, cuma bau belerang cukup menyengat di daerah pos ini, dan nggak mungkin bagi kita buat ngecamp dengan bau belerang seintens itu. “Lan lo istirahat dulu, ntar agak enakan kita berangkat, carrier lo biar gue yang bawa, jangan ngecamp disini bahaya, pos 4 sudah deket kok.” Heri dengan gagahnya menawarkan solusi. Kali ini gue benar-benar kagum dengan Heri, dengan posturnya yang kecil dia berani kasih solusi buat bawa carrier Fadlan.
 Hujan berhenti, Fadlan pun coba buat maksain diri “Yaudah ayo berangkat, kita ngecamp di pos 4.” Kita semua akhirnya berangkat dengan posisi Heri bawa 2 carrier. Jam waktu itu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore, kita sudah terancam untuk kemalaman di jalan. Ini adalah mimpi terburuk gue, kemalaman di gunung dengan posisi semua orang kecapekan, dan kedinginan. 
Tapi Tuhan memang adil, dengan semua kecapekan yang kita tanggung, sunset disuguhi tepat dimata kami. Langit kemerah-merahan dengan awan persis di bawah kami. Pemandangan yang mahal dan jarang untuk orang dapatkan. Cuma karena kami dikejar oleh waktu, dan dingin yang semakin menyekat, kami tetap terus melanjutkan perjalanan, hingga malam pun menjelang.
 Malam tiba, pos 4 belum di depan mata, kami semua sudah merasa mau menyerah dan nggak tahu harus berbuat apa-apa. Semua senter baik dari hape, dan headlamp dihidupkan, kita berjalan dengan sedikit semangat yang tersisa. Setelah semua capek yang melanda akhirnya kami tiba di Pos 4. Dengan cepat Heri langsung mengambil alih semuanya, doi dengan pengertian mengambil alih semua kegiatan mendirikan tenda, bahkan doi sempat bilang “Maaf ya, ini agak lama.” Gue nggak bisa bayangin kalau nggak ada Heri, mungkin kita semua sudah masuk koran sebagai korban yang mengenaskan.
 Tenda berdiri, semua orang langsung masuk. Fadlan langsung menempatkan diri untuk istirahat. Luthfi, Dede, Heri, dan Ade langsung bikin kompor untuk bikin makan malem. Dimana gue? Gue cuma bisa ngeliatin sambil nahan dingin yang sudah kelewatan menyelimuti badan. Seselesainya makan karena kedinginan, kita semua merapat dan tidur dengan berdekatan, berharap mengusir dingin yang mungkin jijay melihat para lelaki saling tidur berpelukan. Sebelum tidur Ade ngomong “Besok berangkat ke puncak jam 3 pagi, alarm siapin.” Omongan yang kemudian disusul dengan suara dengkuran-dengkuran dari mulut-mulut yang mungkin dari tadi menggerutu lelah.
 “Holla selamat pagi, ayo bangun.” Suara Ve yang gue pasang membangunkan gue. Tanda bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 3. Semua orang gue bangunin, dan kita siap-siap untuk menuju puncak. Fadlan yang masih kedinginan harus rela untuk tidur di tenda karena nggak kuat untuk melanjutkan perjalanan. “Headlamp siap? Semua siap? Yok doa dulu.” Gue mulai upacara singkat sebelum perjalanan. Karena gue yakin nggak ada yang bisa menolong kita selain pertolongan Tuhan. Setelah itu kita semua meninggalkan Fadlan untuk kembali berjalan menuju puncak.
 Kita yang sudah nggak bawa carrier, kali ini jalan lebih cepat. Dengan Heri yang bertindak sebagai cameramen, kita berjalan mengikuti jalan setapak untuk memburu sunrise dan puncak. Puluhan atau mungkin ratusan langkah di lewati, dan entah berapa meter tanjakan yang di jalani, akhirnya pos terakhir yaitu pos 5 kita lewati. Hingga kita tiba di tanjakan terakhir untuk menuju puncak. Dengan semangat yang kini membara karena puncak sudah di depan mata, kita semua melangkahkan kaki dengan penuh semangat.

Setengah perjalanan yang sudah kita lewati, akhirnya masalah-masalah baru muncul. Tanjakan yang semakin ekstrim membuat kaki kita semua mulai merasa lelah. Bahkan udara yang mulai tipis menambah rasa capek yang melanda. “Woy nggak kuat lagi gue, susah nafas, kasih nafas buatan sih.” Ade ngomong sambil terengah-engah. Buset kasih nafas buatan untuk cowok? Terus terang gue sendiri nggak bisa membayangkan hal itu, dan semua teman-teman yang lain rasanya juga nggak mungkin buat kasih nafas buatan untuk satu jenis kelamin yang sama. First Kiss pertama buat cowok? Mungkin itu adalah mimpi terburuk buat mereka.  Oke mungkin lo nganggep gue egois, tapi mari kita lihat perawakan Ade.
LO MAU?
“Udah De pelan-pelan aja bentar lagi sampai.” Heri sang penyelamat kasih sedikit pencerahan. Bagi gue, jika kepaksa ngasih nafas buatan mungkin Heri adalah satu-satunya orang yang mau melakukan itu.
 Dengan keadaan terengah-engah, dengan ribuan langkah yang sudah di lewati, dengan hati yang nggak berhenti berdoa, dengan kata-kata “Misi mas” di setiap pertemuan dengan pendaki yang lain. Akhirnya puncak Lawu berhasil kita raih. Gue langsung menangis, dan sujud syukur. Ternyata gue bisa buat sampai di puncak terdingin Jawa, puncak yang membuat gue merasakan rasa takut, dan putus asa. Tuhan memang adil, ternyata badai yang dirasakan semua orang nggak kita rasakan. Bahkan sunrise muncul dengan gagahnya, untuk kesekian kalinya gue nangis “Tuhan gue memang TAJIR! Dengan semua ciptaanNya, bahkan dia nggak pernah pamer itu ciptaanNya.” Disini gue bersyukur karena gue tercipta sebagai manusia, dan bangga karena bisa lahir di Indonesia, yang keindahannya TIADA TARA!.







Selesai foto-foto, selesai menikmati ciptaan Tuhan yang Maha Kreatif dan Tajir akhirnya kita turun untuk kembali ke tenda, tapi sebelumnya dipertengah perjalanan menuju tenda, kita nyempetin dulu buat mampir diwarung yang mungkin tertinggi dijawa, Warung Mbok Yem!. Warung yang tepat berada dibawah puncak Gunung Lawu. Warung yang nyediain makanan hangat dari soto, sampe nasi pecel dan beberapa minuman hangat. Disana kita beristirahat sebentar, heri dede dan ade tertidur sebentar, yang ngebuat gue dan luthfi jalan duluan untuk nganter makanan hangat ke fadlan di tenda.


MBOK YEM.
Sesampe ditenda kita nyempetin foto-foto juga sembari nungguin yang laen buat ketenda dan beres-beres untuk pulang ke Jogja.Fadlan ga lupa nyeritain beberapa pengalaman seremnya selama ditinggal kami kepuncak. Wajar kalo Lawu cukup angker, konon katanya memang di Lawu tempat pertemuan 2 kraton, yaitu Solo dan Jogja. Bahkan malemnya gue juga ngeliat sesosok Sugus, yang bahkan ga sempet bikin gue takut karena jujur gue juga dah capek. Capek gue lebih penting waktu itu.
Setelah semua komplit, kita beres-beres foto bareng dan pulang.
Sepanjang jalan gue bersyukur, meskipun dengan semua masalah yang gue alami, dengan semua sedih yang gue alami, Tuhan selalu punya cara-cara ajaib untuk menyeka air mata gua yang tumpah. Tuhan dengan ajaib selalu bikin gue bangga dengan semua ciptaanNya. Mungkin secara nggak langsung Tuhan mengajarkan bahwa gue harus lebih bersyukur dengan semua keadaan. Semua perjalanan dari hidup gue seolah di gambarkan dari pendakian gue kali ini. Mungkin benar Tuhan selalu kasih kesulitan, tapi percayalah setiap kesulitan pasti ada keindahan. Sunrise tercantik dan sunset terindah dari puncak gunung nggak bakal bisa kalian dapatkan kalau nggak coba mendaki. Capek, letih itu wajar, karena percayalah semuanya akan terbayar.
 Eit belum kelar.
 Dijalan pulang, setelah sampe kembali didepan gerbang, kita dihadang oleh sesosok manusia berkepala pelontos yang meminta uang. “Mas kemarin ga bayar retribusi kan?. Sini bayar uang”, ucap si botak dengan seenak jidat.
 Gue inget waktu mau naek, kita emang ga bayar tiket karena waktu itu kondisi lagi badai, dan waktu itu penjaga tiket bilang “Kalo mau naek aja, tapi ga tanggung resiko”. Kita ga bayar, memang karena kita dilepas dan ga dapet fasilitas (asuransi, pendataan, dan lain-lain). Tapi yang paling penting si botak ini siapa?. Pakaiannya pakaian preman, megang rokok, dan jalannya oleng kayak habis mabuk.
       Gue dan yang lain waktu itu jujur udah capek buat ngeladenin “PAK OGAH” yang seenaknya malak-in kita. Heri yang punya paru-paru 5 dan ga secapek kita dateng dan mencoba menyelesaikan masalah dengan berinteraksi dengan si botak. Interaksi yang awalnya selo, tau-tau berjalan sengit karena sibotak jadi nyolot. Untungnya Heri si Anak Timur yang mungkin dah terbiasa dengan beginian ga mau kalah. Sampe akhir debat terjadi dan si botak kalah mental, dengan mundur sambil ngancem “Ini daerahku ga usah aneh-aneh”.
Kita saat itu sih udah siap kalo kemungkinan terburuk bakal berantem bersama botak yang mungkin bakal kawan-kawannya. Ya walaupun gue bakal jadi tim Rohani, dengan berdiri paling belakang untuk berdoa. Tapi sayangnya si botak kayaknya kalah mental dengan perawakan heri yang mungkin lebih nyeremin dari Malaikat Izrail. 

Seselesainya dengan botak yang mungkin lari atau manggil temen-temennya, kitapun saat itu langsung nyari kendaraan pulang buat nganter ke stasiun. Awalnya kita dapet mobil, dan seneng karena ga empit-empitan lagi. Tapi setelah beberapa waktu didalam mobil, satu persatu kemarukan sopirpun terulang. Satu demi satu penumpang dimasukan, dan dari kita dan si sopir aja ada yang didalam mobil, menjadi ber20 lagi didalam mobil, yang artinya kita di...
 GREPE LAGI!

You Might Also Like

0 komentar