Pemimpin, Ahok, dan Pilkada.

13:06



Terhitung beberapa bulan terakhir, dunia persilatan Indonesia digemparkan.
Ini gue mau bahas apaan dah.

Oke kita ulang.

Selama beberapa bulan terakhir di Indonesia, sedang disibukkan dan dihebohkan dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta.

Selama beberapa bulan terakhir juga, semua orang berlomba-lomba menyuarakan pendapat mereka, menyuarakan aspirasi mereka, hingga menjeritkan opini mereka disosial media, atau bahkan hingga turun langsung ke jalan-jalan Jakarta.

Gara-gara Pilkada Jakarta, Indonesia sibuk.
Gara-gara Pilkada Jakarta, Indonesia "ga tenang".
Gara-gara Pilkada Jakarta, Indonesia seolah terbelah.
Dan gara-gara Pilkada Jakarta, Indonesia terkotak-kotakan masyrakatnya.
Ya kota-kotak diibaratkan pakaian Bapak Ahok.

Eh tapi gara-gara Pilkada bahkan gue jadi bisa ngelupain mantan (lah hubungannya?)
(cie abis ini langsung di cocoklogi sama mantan gue)

Bangun tidur, gue liat twitter isinya TwitWar Pilkada.
Mau tidur, yang gue liat di Instagram yang ada malah post tentang paslon Pilkada Jakarta.
Rutinitas gue setiap hari hanya melihat tentang "P-I-L-K-A-D-A?"

Muak?.
Hampir.

Tapi gue lebih ngeliat ini sebagai sarana untuk pembelajaran gue dan generasi gue kedepan. Tentang apa yang baik untuk dilakukan kedepan, dan apa yang ga baik untuk dilakukan kedepan. Sehingga Indonesia bakal tetap ada, dan aman untuk dihuni dalam abad-abad yang akan datang.

Awalnya gue sempet mikir, kenapa Pilkada Jakarta bisa menghebohkan Indonesia?.
Kenapa Pilkada Jakarta bisa menggemparkan seluruh sisi Indonesia?. Yang bahkan bisa ngalahin intensitas joget ngebor Inul pada jaman dahulu kala.

Setelah gue tela'ah lebih dalam, dan lebih jauh ternyata ada dua point mendasar yang ngebuat Pilkada Jakarta jadi sehectic ini.

Pertama. 

Jakarta adalah Ibukota Negara Republik Indonesia.

Jakarta adalah Ibukota Negara, yang artinya sudah seharusnya menjadi rolemodel bagi Provinsi lainnya.

Temen gue pernah ngomong gini "Kalo lu berhasil nguasain Jakarta, lu berhasil nguasain Indonesia?.
Omongan yang gue anggap ga berdasar pada awalnya, tapi gue aamiinkan pada akhirnya.

Kenapa?.

Karena di Jakarta, arus poros Indonesia berputar.

Dari sebuah kota bernama Jakarta, kita dapat melihat sampulnya Indonesia.

Dari sebuah kota bernama Jakarta, Indonesia digerakkan.

Sudah sepantasnya bagi Ibukota untuk diperebutkan. Sudah sepantasnya bagi Ibukota untuk diperbincangkan, dan sudah sewajarnya bagi Ibukota untuk diliput secara masal oleh media massa. karena tentusaja, Ibukota berarti Ibu dari setiap kota. Dan karena ini Ibu kota negara Indonesia, berarti Jakarta adalah Ibu dari setiap kota yang ada di Indonesia (GILE LOGIKA GUE)😅

Ga percaya?.

Mari kita coba menapak tilas (bahasa gue -__-) jaman-jaman dimana kita semua masih dalam status "wacana" para orang tua. Inget sangking pentingnya Ibukota, dia sampe dipindahkan. Dari Bukit Tinggi, hinga Yogyakarta.

Bayangkan sangking pentingnya Ibu Kota, dia harus dipindahkan berapa puluh hingga ratusan kilometer, untuk mempertahankan statusnya, untuk menjaga keutuhannya. Soekarno tau betul bahwa, kalo Ibu Kota berhasil diduduki dan kehilangan statusnya. Maka lenyaplah sudah Indonesia.

Atas dasar itu kemudian menurut gue, sangat wajar Pilkada Jakarta menjadi penting dan sangat hangat diperbincangkan selama beberapa bulan belakangan.

Oke kalo susah buat dipahami mari kita analogikan.

Analoginya gini.
Disuatu kelas hiduplah seorang Wanita bernama Andra, eh jangan Andra dah ada cowok. Eh tapi gapapa (gimana sih jik -__-). Nah Andra ini cantiknya ngalahin cewek-cewek pada umumnya, yang manisnya melebihin kadar gula pada maknanya.  Selain cantik, Andra juga cerdas dan udah dapat diomongin sebagai maskot dari sekolah itu. Nah terus disuatu waktu, ada dua cowok yang secara frontal bilang suka ama dia. Yang kemudian disusul dengan proses PDKT dari masing-masing cowok tadi. Sebut aja cowok itu Ojik, dan Imron. Eh jangan Imron itu Om gue. Oke Jailani. Jadilah Ojik dan Jailani ngedeketin Andra. Karena Andra cantik, sudah sewajarnya kalo emang Andra diperbincangkan. Tapi karena ada Jailani dan Ojik yang ngedeketin Andra. Perbincangan akan Andra menjadi lebih hangat, karena ada imbuhan persaingan dari Ojik dan Jailani yang nyoba untuk mendapatkan hati Andra.

Begitu jugalah dengan Jakarta.

Sudah sewajarnya sesuatu yang memiliki "makna" lebih untuk diperbincangkan.

Ibarat kenapa Freeport lebih sering dibahas dibandingkan Bumi Suksesindo, padahal mereka sama-sama perusahaan tambang emas. Itu karena freeport memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan Bumi Suksesindo.

Atau kenapa gue lebih sering ngebahas elu dibandingkan cewek yang lain?. Ya, itu karena gue sayang sama elu dibanding cewek yang laen (oke fix ini ngawur).

Oke lanjut.

Point kedua adalah.

Karena Pak Ahok.
(Gue bold biar lebih bisa dibaca).

Pilkada yang rame, menjadi lebih hangat gara-gara pak Ahok.
Ini semua berawal dari video ucapan doi di kepulauan Seribu yang ngebawa surah Al-Maidah ayat 51. https://www.youtube.com/watch?v=MNdJv3ZAqQE

Oke biar cerita ini lebih detail dan enak buat dibaca, gue bakal nyoba jelasin secara perlahan tentang hal ini.

Tentang Pak Ahok dan Al-Maidah 51. 
Gue analogikan kayak gini.
Disuatu sekolah (lagi yang ada Andranya), Guru Biologi bilang bahwa "Paus adalah hewan yang termasuk Mamalia", guru Biologi ngomong sesuai dengan buku yang dia pegang. Lalu tiba-tiba ada guru Sosiologi ngomong "Tidak itu belum tentu benar, mungkin salah".

Masalah Hewan dan Mamalia itu adalah ranahnya Guru Biologi, ngapain guru Sosiologi ikut-ikutan?. Bicara pada bukan ranahnya itu salah, apapun maksudnya. Karena persepsi tiap orang itu beda, maka setiap orang harus bicara pada batas teritorialnya. 

Gara-gara hal barusanlah kemudian PILKADA JAKARTA menjadi panas, dan sangat tidak sehat menurut gue.

Banyak orang yang ga suka sama pernyataan Pak Ahok yang ngebawa-bawa Al-Maidah 51.
Tapi banyak juga yang biasa aja dan nganggep yang kesinggung itu aneh, dan lain-lain.
Hal inilah yang kemudian ngebuat Indonesia terkotak-kotakan.

Masih terkait Al-Maidah 51. Banyak banget yang bilang jika gue analogiin bunyinya hampir kayak gini "Udah kita ini satu sekolah, biarin aja, kita ini terdiri dari banyak guru, jangan diributin".
Sayangnya bagi gue dan sebagian banyak orang nganggep "Karena kita ini satu sekolah, maka sesuatu yang salah harus dilurusin dan dibenarin biar murid-murid yang lain itu ga salah anggap, jangan dibiarin. Kalo engga nanti bakal banyak guru-guru lainnya yang masuk kepelajaran guru lain yang tentusaja bukan ranahnya. Kalo gitu yang kasian siapa?. Murid-muridnya kan?".

Nah kayak yang gue bilang, semenjak kasus itu tadi. PILKADA JAKARTA bener-bener berhasil ngebuat heboh satu Indonesia. PILKADA yang rame jadi semakin panas. Dan itu ditambah dengan masing-masing tim sukses yang terus menyuarakan kasus-kasus dari masing-masing PASLON untuk diperbincangkan.

Dari Indonesia bersyariah, Alexis, sampe tempramen dari masing-masing calon.

PILKADA yang ga sehat. Sangat ga sehat.

Karena bagi gue kalo mau mimpin sesuatu ya jangan harus ngejelekin sesuatu yang laen, jangan bicara bukan pada ranahnya.

Gue seneng banget waktu nonton Film Abraham Lincoln.
Ketika dia pengen capai sesuatu, dia bikin panggung orasi, terus berpidato menyuarakan gagasan dari keresahan. Kemudian meneriakan harapan. Lalu karena semua itu, masyrakat tertarik dan dia jadi presiden.

Misalkan mau mimpin, oke cukupkan sampai gagasan, serta retorika bagaimana caranya mengajak orang lain untuk mendukung tanpa harus "membunuh" atau "mengusik" sesuatu yang bukan pada ranahnya. Karena pemimpin itu adalah orang yang diatas. Dia harus punya gagasan, kemampuan untuk menggerakkan, sekaligus kemampuan untuk mendengarkan (ya meskipun harus ada modal juga sih, buat kampanye, dll.).

Pemimpin harus punya gagasan, mental yang sangat baik, mampu mendengarkan, dan berikut juga mampu menenangkan.

Analogi (lagi). Misalkan negara ini terjadi perang. Jika semua orang menjadi panik, lantas pada siapa orang-orang ini berharap kecuali kepada pemimpinnya?. Lantas pada siapa yang diharapkan mampu berpikir tenang, kemudian untuk menangkan dan memberikan harapan kepada masyrakat jika itu bukan kepada pemimpin?.

Gue yakin mungkin Kasus Pak Ahok juga ada sebagian pihak yang mempolitisasi. Tapi balik lagi, ada bara ada api. Semua bermula dari Pak Ahok sendiri, yang kemudian mungkin diperparah oleh "suatu kelompok".

Tapi pada akhirnya kemarin, gue cukup lega karena PILKADA pun selesai.

Akhirnya trending topic twitter, udah perlahan mulai normal.
Instagram udah mulai bersih dari hal-hal berbau PILKADA.
Dan gue akhirnya bisa nulis hal ini dengan harapan kali terakhir untuk gue ngebahas masalah PILKADA.

Gue sangat yakin bahwa Pak Ahok punya integritas, dan diselimuti oleh hal-hal baik yang selalu dikumandangkan oleh banyak pendukung pak Ahok. 

Kayak yang Pak Anies bilang, bahwa "Pak Ahok adalah Putera terbaik bangsa".
Gue sangat mengaminkan itu.

Ga cukup banyak ksatria yang mampu menyelesaikan perang, meskipun dikelilingi oleh banyak lawan.

Kadang manusia butuh kalah untuk tau gimana caranya menang. Kadang manusia harus salah, untuk tau itu namanya benar. Gue yakin, pak Ahok juga ingin Jakarta lebih baik.
(Misalkan gue nyalon terus gue kalah, berarti masyrakat percaya lawan gue jauh lebih mampu ngebawa tempat gue nyalon itu kearah yang lebih baik.  Toh gue nyalon juga tujuannya buat bikin tempat itu untuk ke arah yang lebih baik, jadi ya gue pasti terima-terima aja karena memang semua yakin calon sebelah mampu memimpin untuk lebih baik. Kecuali kalo gue....baru gue bakal berusaha menang dan ga terima kalah hehe.).

Dan pada akhirnya gue berharap memang Pak Ahok lebih baik meninggalkan Jakarta. Karena Jakarta terlalu kecil untuk dipimpin seorang AHOK. Dengan integritas dan semua kemampuan yang dia miliki, dia bisa mimpin KPK. Bukankan itu jauh lebih baik dari pada sekedar memimpin JAKARTA? . Adil dong, jangan Jakarta doang yang ngerasain pak Ahok. Biarkan KPK juga. Dan Biarkan kami bersama PAK AHOK. 
SEMANGAT PAK!
HEHE.

You Might Also Like

3 komentar